Sebuah sudut tempat berbagi inspirasi, pengalaman hidup, Kisah-kisah motivasi dan berbagai macam hal baik.

Siapakah Ahlul Bait sebenarnya?

Siapakah Ahlul Bait sebenarnya?

Diposting Oleh Kiral Moerad Monday, March 25, 2013 4 komentar
Ahlul-bait

Semoga tulisan berikut "Siapakah Ahlul bait sebenarnya?" bisa membuka mata kita, yang mungkin selama ini tersalah persepsi. Tulisan berikut saya kutip dari blog sarang.
Perbuatan paling tidak disukai Allah ialah perbuatan yang mengada-ada. Untuk apa mengikuti cara-cara ahlul bidah? Adakah keturunan Rasulullah itu? Sudah jelas sekali Q.S. Al-Ahzab ayat 40 itu.

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [Q.S. Al-Ahzab:40]

Nabi adalah orang yang diberi penglihatan jauh sebelumnya. Terbukti Rasul ialah orang pertama yang melaksanakannya. Mana mau Rasul meninggalkan shalat, minum khamr, dan segala yang dilarang Tuhan. Muhammad Rasulullah Saw. itu kebanggaan para nabi karena meskipun beliau itu nabi paling "bungsu", beliau juga sekaligus penghulu para nabi[1].

"Takutilah firasat orang mukmin, sesungguhnya ia memandang dengan Cahaya Allah." [H.R. Thabrani & Tirmidzi]

Diutusnya nabi-rasul bukan untuk bangsa tertentu, bukan hanya untuk Yahudi, bukan hanya untuk Arab, bukan untuk keturunan Yahudi saja, bukan untuk keturunan Arab saja, melainkan untuk seluruh umat manusia. Itulah "tradisi Tuhan" untuk bumi manusia.

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. [Q.S. Saba’ (34): 28]

Yang mengaku-aku ahlul bait itu kebanggan apa yang ditonjolkannya pada umat? Yang disebut ahlul bait sekarang adakah yang jadi kebanggaan seluruh umat karena menegakkan sistem Tuhan ini?

Dokter mendapat pengakuan sebagai dokter kalau dia melakukan pekerjaan seorang dokter. Demikian juga seorang nabi: mendapatkan pengakuan sebagai nabi kalau dia melakukan pekerjaan seorang nabi. Bedanya, dokter mendapatkan pengakuan dari manusia, sedangkan seorang nabi itu mendapatkan pengakuan dari Tuhan. Nabi tidak memerlukan pengakuan dari manusia, nabi melakukan segala perintah Tuhan karena menerima Surat Keputusan [SK] langsung dari Tuhan. Jadi, legalitasnya langsung dari Tuhan.

Mengapa mengaku keturunan nabi masih pula minta pengakuan dari manusia?

Sistem Tuhan ini penting ditegakkan di bumi manusia untuk mendapatkan nikmat dari Tuhan, yaitu nikmat keselamatan dunia-akhirat. Inilah konsep keselamatan dalam sistem Tuhan itu:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian. [Q.S. Al-Anbiya: 25]

Sebelum melompat pada sumber dalil tentang ahlul bait, kita buka dulu al-Fatihah:6-7. Itu dibaca setiap muslim dalam shalat.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Mereka yang dimurkai adalah orang-orang yang sengaja menentang petunjuk para nabi, sedangkan mereka yang sesat adalah orang-orang yang mengambil jalan selain petunjuk para nabi. Maka mereka yang Allah beri nikmat adalah mereka yang mengikuti petunjuk para nabi dalam penegakkan sistem Tuhan dengan jaminan legalitas dari Tuhan juga.

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا [٣٣:٣٢]
Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,

[Jadi biarpun istri nabi, kalau tidak bertakwa ya sama saja dengan perempuan yang bukan istri nabi dan perempuan yang bukan istri nabi kalau bertakwa, dia sederajat dengan istri nabi]

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا [٣٣:٣٣]
dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا [٣٣:٣٤]
Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا [٣٣:٣٥]

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. [Q.S. al-Ahzab:32-35]

[Yang disebutkan di atas muslimin wal muslimat juga mukminin wal mukminat, tidak disebutkan keluarga nabi atau bukan, 'kan?!]

Itulah konsep ahlul bait [pemaknaan kasarnya = "orang rumah"]. Berlaku secara umum bagi keluarga nabi [ayat ke-32] maupun bagi yang bukan keluarga nabi [ayat 33-35]. Jadi konsep ahlul bait itu jangan diartikan keturunan Nabi Muhammad Saw., bukan itu. Juga bukan bermakna keluarga rumah tangga Rasulullah Saw. Sebab sejarah para nabi membuktikan, keluarga dan keturunan langsung nabi tidak selamanya pasti selamat [anak Nabi Adam a.s., istri Nabi Luth a.s., istri dan anak Nabi Nuh a.s. dsb.]

Sebenarnya ahlul bait itu konsep keselamatan yang dipakai oleh orang-orang terdahulu yang diberi nikmat oleh Allah meskipun mereka bukan keturunan darah langsung nabi, maupun bukan anggota keluarga nabi. [ingat lagi Al-Fatihah:6-7]. Para pengikut nabi itu adalah mereka yang tidak menentang petunjuk para nabi dan tidak mengambil jalan selain jalan para nabi.

Nabi sebagai khalifah ialah aktor utama dalam skenario penegakan sistem Tuhan di bumi manusia. Para nabi-lah yang membangun baitullah "rumah Allah" di atas muka bumi untuk membina setiap penghuninya [ahlul bait] menuju keselamatan. Mereka berkumpul dalam satu ikatan iman, bukan ikatan darah dan ikut serta dalam melakukan pekerjaan para nabi itu. Itulah dinamakan kita ini semua ahlul bait Nabi Muhammad Rasulullah Saw. Itulah tradisi atau sistem Tuhan itu: keturunan akidah, bukan keturunan darah.

Contoh konkret konsep bait dan ahlul bait dalam tarikh, sejarah Nabi Nuh a.s. dan bahteranya. Semua yang bersama Nabi Nuh dalam baitullah yang berupa kapal besar itu selamat dan sebagian besar yang ada di bait keselamatan itu adalah umat Nabi Nuh, bukan hanya keluarga atau keturunan darah Nuh a.s.

Wahai umat, lebih baik kamu tetap di rumah dan jangan berhias seperti orang jahiliyah yang pakai gelar-gelar. Dirikanlah shalat, zakat, dan taat pada Allah dan Rasul-Nya karena pada yang demikian itu Allah hendak membersihkan dosa kamu seluruhnya, sebersih-bersihnya. [Q.S. Ahzab:33 di atas]

Nah, habib-habaib, syarif-syarifah Sunni dan hazrat-hazrat, ayatollah-ayatollah Syiah itu kebanggaan apa yang ditonjolkan pada umat? Bisanya baru mengaku-aku keturunan nabi saja, lalu masih pula mencari-cari pengakuan dari manusia. Memangnya apa yang kau beri pada manusia?

Para nabi itu aktor-aktor dalam skenario penegakan sistem Tuhan Yang Maha Esa di bumi. Habib-habaib, syarif-syarifah Sunni dan hazrat-hazrat, ayatollah-ayatollah Syiah itu apa yang ditegakkan di muka bumi? Apa hanya selawat-selawat lalu setelahnya makan gulai kambing dan roti cane yang ditegakkan?

Kalaupun mau dipaksakan makna ahlul bait itu keturunan Nabi Muhammad Saw., maka sampai Fatimah binti Muhammad sudah putus jalurnya. Dari mana celahnya mau dikait-kaitkan dengan keluarga si anu-si itu? Ini namanya perbuatan mengada-ada. Sekarang kamu boleh tertawa-tawa mengaku keturunan Nabi. Nanti Nabi menuntut mengapa mengaku-aku, tetapi perbuatanmu tidak bisa menyelamatkan umat. Buka Kitab Kasyfu Mahjub.

Pemaknaan konsep ahlul bait mentah-mentah seperti ini yang menyebabkan perpecahan, timbul sekte-sekte dalam tubuh umat. Akhirnya timbul kebanggaan golongan-golongan dan lahirlah eksklusivisme. Eksklusivisme manusia atas manusia lain itu "perhiasan" kaum jahiliyyah dan kafir. Feodalisme itu perhiasan pengikut Dajjal sejak Namrudz dan Fir`aun, hingga sistem hierarki freemasonry pada zaman ini.

Padahal yang dikehendaki Tuhan untuk bumi manusia itu Allahisme. Sebab Allah tetapkan letak kedudukan manusia itu pada perhiasan iman dan takwa, bukan perhiasan keturunan, gelar-gelar, pangkat-pangkat, harta-harta.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.” [Q.S. Al-Hujurat: 13]

Jadi siapa saja yang disebut ahlul bait itu?

Pengikut nabi seluruhnya [baik keluarga nabi maupun bukan] yang taat pada Allah dan rasul-Nya yang mengerjakan shalat, zakat, puasa, dan tetap diam di dalam "rumah": tidak keluar rumah artinya tidak "berhias" seperti kaum yang keluar dari petunjuk Allah dan rasul-Nya.

Artikel ini ditulis berdasarkan petunjuk dan gagasan murni Guru kami, K.H. Undang Siradj dengan pengembangan isi seperlunya oleh Penunggu Sarang atas izin beliau.

[1]: صحيح البخاري ٦٩٥٦: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا مَعْبَدُ بْنُ هِلَالٍ الْعَنَزِيُّ قَالَ اجْتَمَعْنَا نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْبَصْرَةِ فَذَهَبْنَا إِلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَذَهَبْنَا مَعَنَا بِثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ إِلَيْهِ يَسْأَلُهُ لَنَا عَنْ حَدِيثِ الشَّفَاعَةِ فَإِذَا هُوَ فِي قَصْرِهِ فَوَافَقْنَاهُ يُصَلِّي الضُّحَى فَاسْتَأْذَنَّا فَأَذِنَ لَنَا وَهُوَ قَاعِدٌ عَلَى فِرَاشِهِ فَقُلْنَا لِثَابِتٍ لَا تَسْأَلْهُ عَنْ شَيْءٍ أَوَّلَ مِنْ حَدِيثِ الشَّفَاعَةِ فَقَالَ يَا أَبَا حَمْزَةَ هَؤُلَاءِ إِخْوَانُكَ مِنْ أَهْلِ الْبَصْرَةِ جَاءُوكَ يَسْأَلُونَكَ عَنْ حَدِيثِ الشَّفَاعَةِ فَقَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ مَاجَ النَّاسُ بَعْضُهُمْ فِي بَعْضٍ فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِإِبْرَاهِيمَ فَإِنَّهُ خَلِيلُ الرَّحْمَنِ فَيَأْتُونَ إِبْرَاهِيمَ فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِمُوسَى فَإِنَّهُ كَلِيمُ اللَّهِ فَيَأْتُونَ مُوسَى فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِعِيسَى فَإِنَّهُ رُوحُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ فَيَأْتُونَ عِيسَى فَيَقُولُ لَسْتُ لَهَا وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَأْتُونِي فَأَقُولُ أَنَا لَهَا فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّي فَيُؤْذَنُ لِي وَيُلْهِمُنِي مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا لَا تَحْضُرُنِي الْآنَ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ وَأَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيَقُولُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ وَسَلْ تُعْطَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِي أُمَّتِي فَيَقُولُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مِنْهَا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ شَعِيرَةٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ وَسَلْ تُعْطَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِي أُمَّتِي فَيَقُولُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مِنْهَا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ أَوْ خَرْدَلَةٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجْهُ فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ ثُمَّ أَعُودُ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيَقُولُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ وَسَلْ تُعْطَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِي أُمَّتِي فَيَقُولُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالِ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجْهُ مِنْ النَّارِ فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ فَلَمَّا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ أَنَسٍ قُلْتُ لِبَعْضِ أَصْحَابِنَا لَوْ مَرَرْنَا بِالْحَسَنِ وَهُوَ مُتَوَارٍ فِي مَنْزِلِ أَبِي خَلِيفَةَ فَحَدَّثْنَاهُ بِمَا حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ فَأَتَيْنَاهُ فَسَلَّمْنَا عَلَيْهِ فَأَذِنَ لَنَا فَقُلْنَا لَهُ يَا أَبَا سَعِيدٍ جِئْنَاكَ مِنْ عِنْدِ أَخِيكَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فَلَمْ نَرَ مِثْلَ مَا حَدَّثَنَا فِي الشَّفَاعَةِ فَقَالَ هِيهْ فَحَدَّثْنَاهُ بِالْحَدِيثِ فَانْتَهَى إِلَى هَذَا الْمَوْضِعِ فَقَالَ هِيهْ فَقُلْنَا لَمْ يَزِدْ لَنَا عَلَى هَذَا فَقَالَ لَقَدْ حَدَّثَنِي وَهُوَ جَمِيعٌ مُنْذُ عِشْرِينَ سَنَةً فَلَا أَدْرِي أَنَسِيَ أَمْ كَرِهَ أَنْ تَتَّكِلُوا قُلْنَا يَا أَبَا سَعِيدٍ فَحَدِّثْنَا فَضَحِكَ وَقَالَ خُلِقَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا مَا ذَكَرْتُهُ إِلَّا وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أُحَدِّثَكُمْ حَدَّثَنِي كَمَا حَدَّثَكُمْ بِهِ قَالَ ثُمَّ أَعُودُ الرَّابِعَةَ فَأَحْمَدُهُ بِتِلْكَ الْمَحَامِدِ ثُمَّ أَخِرُّ لَهُ سَاجِدًا فَيُقَالُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ وَسَلْ تُعْطَهْ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ فَأَقُولُ يَا رَبِّ ائْذَنْ لِي فِيمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَيَقُولُ وَعِزَّتِي وَجَلَالِي وَكِبْرِيَائِي وَعَظَمَتِي لَأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Shahih Bukhari 6956:

....dst,..Ma'bad bin Hilal Al 'Anazi berkata, "Kami, orang-orang penduduk Bashrah, berkumpul dan pergi menemui Anas bin Malik, lalu kami pergi bersama Tsabit Al Bunani dengan tujuan bertanya tentang hadis Syafaat. Tidak tahunya Anas bin mlik dalam berada istananya, lalu kami temui beliau tepat ketika ia sedang shalat dluha. Kemudian kami meminta ijin dan ia pun memberi ijin yang ketika itu ia tengah duduk di atas kasurnya. Maka kami berkata kepada Tsabit, 'Jangan kamu bertanya kepadanya tentang sesuatu sebelum hadis syafaat.' Lantas Tsabit bertanya, 'Wahai Abu Hamzah, kawan-kawanmu dari penduduk Bashrah datang kepadamu untuk bertanya tentang hadis syafaat.'

Lantas Anas berkata, "Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam telah menceritakan kepada kami, beliau bersabda: "Jika hari kiamat tiba, maka manusia satu sama lain saling bertumpukan. Mereka kemudian mendatangi Adam dan berkata, 'Tolonglah kami agar mendapat syafaat Tuhanmu.' Namun Adam hanya menjawab, 'Aku tak berhak untuk itu, namun datangilah Ibrahim sebab dia adalah khalilurrahman (Kekasih Arrahman).'

Lantas mereka mendatangi Ibrahim, namun sayang Ibrahim berkata, 'Aku tak berhak untuk itu, coba datangilah Musa, sebab dia adalah nabi yang diajak bicara oleh Allah (kaliimullah).'

Mereka pun mendatangi Musa, namun Musa berkata, 'Saya tidak berhak untuk itu, coba mintalah kepada Isa, sebab ia adalah roh Allah dan kalimah-Nya.'

Maka mereka pun mendatang Isa. Namun Isa juga berkata, 'Maaf, aku tak berhak untuk itu, namun cobalah kalian temui Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.'

Mereka pun mendatangiku sehingga aku pun berkata: "Aku kemudian meminta ijin Tuhanku dan aku diijinkan, Allah mengilhamiku dengan puji-pujian yang aku pergunakan untuk memanjatkan pujian terhadap-Nya, yang jika puji-pujian itu menghadiriku sekarang, aku tidak melafadkan puji-pujian itu. Aku lalu tersungkur sujud kepada-Nya, lantas Allah berfirman 'Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah engkau akan didengar, mintalah engkau akan diberi, mintalah keringanan engkau akan diberi keringanan.'

Maka aku menghiba 'Wahai tuhanku, umatku-umatku.' Allah menjawab, 'Berangkat dan keluarkanlah dari neraka siapa saja yang dalam hatinya masih terdapat sebiji gandum keimanan.' Maka aku mendatangi mereka hingga aku pun memberinya syafaat. Kemudian aku kembali menemui tuhanku dan aku memanjatkan puji-pujian tersebut, kemudian aku tersungkur sujud kepada-Nya, lantas ada suara 'Hai Muhammad, angkatlah kepalamu dan katakanlah engkau akan didengar, dan mintalah engkau akan diberi, dan mintalah syafaat engkau akan diberi syafaat.'

Maka aku berkata, 'Umatku, umatku, ' maka Allah berkata, 'Pergi dan keluarkanlah siapa saja yang dalam hatinya masih ada sebiji sawi keimanan, ' maka aku pun pergi dan mengeluarkannya. Kemudian aku kembali memanjatkan puji-pujian itu dan tersungkur sujud kepada-Nya, lantas Allah kembali berkata, 'Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah engkau akan didengar, mintalah engkau akan diberi, dan mintalah syafaat engkau akan diberi syafaat.'

Maka aku berkata, 'Wahai tuhanku, umatku, umatku.' Maka Allah berfirman: 'Berangkat dan keluarkanlah siapa saja yang dalam hatinya masih ada iman meskipun jauh lebih kecil daripada sebiji sawi, ' maka aku pun berangkat dan mengeluarkan mereka dari neraka."

....dst, Nabi berkata: "Kemudian aku kembali untuk keempat kalinya, dan aku memanjatkan dengan puji-pujian itu kemudian aku tersungkur sujud dan diserukan, 'Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, ucapkanlah engkau didengar, mintalah engkau diberi, dan mintalah syafaat engkau akan diberi syafaat, ' maka aku berkata, 'Wahai Tuhanku, ijinkanlah bagiku untuk orang-orang yang mengucapkan La-Ilaaha-Illallah! ' Maka Allah menjawab, 'Demi kemuliaan, keagungan dan kebesaran-Ku, sungguh akan Aku keluarkan siapa saja yang mengucapkan Laa-Ilaaha-Illallah."

Tulisan asli ada di sini http://muxlimo.blogspot.com/2013/04/ahlul-bait-sebenarnya.html semoga bermanfaat...aamiin

Waalaikum Salam....


Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Judul : Siapakah Ahlul Bait sebenarnya?
Ditulis/Disusun Oleh : Kiral Moerad
Tulisan Siapakah Ahlul Bait sebenarnya? pada Blog POJOK MOTIVASI ini memang di bawah DCMA Protected. Tapi Bebas kok di COPAS dan di posting Ulang asalkan link sumbernya tetap disertakan.

4 comments:

muxlimo said...

Alhamdulillah..makasih Wet udah sudi bantu share *jempols barak Allah fikum :)

moerad qrad said...

:D ya kang...dak sempet minta restu kemarin buat share postingan ini....

Abdullahdadan said...

“Ketika putera Rasulallah saw. yang bernama Qasim wafat dalam usia kecil, salah seorang tokoh musyrikin Quraisy bernama ‘Ash bin Wa’il bersorak-sorak gembira. Ia bersorak bahwa Rasulallah saw. tidak akan mempunyai keturunan lebih lanjut. Ulah-tingkah dan ucapan ‘Ash bin Wa’il inilah yang menjadi sebab turunnya wahyu Ilahi  Surah Al-Kautsar  kepada Rasulallah saw. Ayat terakhir surat Al-Kautsar telah menegaskan: ‘ Sungguhlah, orang yang membencimu itu lah yang abtar ( putus keturunan)’. Firman Allah swt. terbukti dalam kenyataan yaitu: Keturunan Rasulallah saw. berkembang-biak dimana-mana, sedangkan keturunan ‘Ash bin Wa’il putus dan hilang ditelan sejarah”! ‘Ash bin Wa’il sudah tiada bersisa, tetapi teriakannya masih mengiang-ngiang ditelinga golongan pengingkar pembenci keturunan Rasulallah saw. tersebut.

Bila Rasulallah saw. tidak mempunyai keturunan, tentu beliau saw. tidak menantang kaum Nasrani, Najran bermubahalah. Kisah peristiwanya terabadikan dalam Al-Qur’an surat Aali ‘Imran: 61 (baca keterangan singkat selanjutnya). Kecuali ini pun, Rasulallah saw. tidak akan diperintah Allah swt. supaya berkata kepada kaum musyrikin Quraisy: “Katakanlah (hai Muhammad) Aku tidak minta upah apa pun dari kalian kecuali kasih sayang dalam (hubungan) kekeluargaan (yakni keluarga/ahlul-bait Muhammad saw.) ”. (Asy-Syura: 23). Ayat Asy-Syura ini turun untuk keluarga Rasulallah saw. yakni Imam ‘Ali, Siti Fathimah Az-Zahra, Al-Hasan dan Al-Husain

Anonymous said...

Apa juga tendensi saudara menjelekan orang2 yg bergelar habib,syarif,atau ayatollah?. Padahal sekalipun mereka bukan keturunan rasul, sebagian besar dari mereka berdakwah, mengajak kepada kebaikan?. Apanya yg salah?. Apa harus patrilineal?, kenapa?. Semoga hidayah menolong kita, amin

Post a Comment